Bagaimana Vendor Management Mendukung Keberhasilan Procurement Perusahaan?
Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif, procurement tidak lagi hanya berfungsi sebagai bagian yang bertugas membeli barang atau jasa dengan harga paling rendah. Procurement kini memiliki peran strategis dalam menjaga efisiensi biaya, kualitas operasional, kesinambungan pasokan, pengelolaan risiko, hingga penciptaan nilai bagi perusahaan. Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan procurement adalah vendor management. Perusahaan dapat memiliki proses sourcing, negosiasi, dan kontrak yang baik, tetapi hasil procurement tetap dapat terganggu apabila perusahaan tidak mampu mengelola vendor secara sistematis setelah proses pengadaan berlangsung.
Vendor management membantu perusahaan memastikan bahwa vendor memenuhi standar kualitas, ketepatan waktu, harga, kepatuhan, serta komitmen yang telah disepakati dalam kontrak. Di sisi lain, pengelolaan vendor yang baik juga dapat membuka peluang untuk meningkatkan inovasi, efisiensi, kolaborasi, dan ketahanan supply chain. Menurut Chartered Institute of Procurement & Supply (CIPS), supplier relationship management merupakan bagian penting dari siklus procurement karena membantu organisasi membangun hubungan yang sesuai dengan supplier untuk mencapai tujuan bisnis. Lalu, bagaimana sebenarnya vendor management mendukung keberhasilan procurement perusahaan?

Apa Itu Vendor Management?
Vendor management adalah proses sistematis untuk mengelola hubungan perusahaan dengan vendor atau supplier sejak proses pemilihan, evaluasi, kontrak, pelaksanaan pekerjaan, monitoring kinerja, hingga evaluasi dan pengembangan hubungan kerja sama.
Dengan vendor management, perusahaan tidak hanya bertanya:
“Berapa harga yang ditawarkan vendor?”
Perusahaan juga perlu menjawab pertanyaan yang lebih strategis, seperti:
- Apakah vendor mampu memenuhi kebutuhan perusahaan?
- Apakah kualitas produk atau layanan konsisten?
- Apakah vendor mampu memenuhi target delivery?
- Bagaimana kondisi finansial dan operasional vendor?
- Apakah vendor memenuhi persyaratan legal dan compliance?
- Seberapa besar risiko ketergantungan terhadap vendor?
- Apakah vendor dapat mendukung inovasi?
- Bagaimana kontribusi vendor terhadap efisiensi perusahaan?
- Apakah hubungan dengan vendor perlu dikembangkan menjadi strategic partnership?
CIPS menjelaskan bahwa pengelolaan supplier tidak berhenti pada hubungan dan komunikasi. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kinerja supplier dalam memenuhi kebutuhan organisasi. Dengan demikian, vendor management memiliki hubungan yang sangat erat dengan procurement management dan supplier relationship management atau SRM.
Mengapa Vendor Management Penting bagi Procurement?
Procurement merupakan rangkaian aktivitas yang mencakup market analysis, sourcing, negotiation, contracting, hingga supplier relationship management. Karena itu, keberhasilan procurement tidak hanya ditentukan ketika perusahaan mendapatkan kontrak dengan vendor, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan memastikan kontrak tersebut menghasilkan value selama masa kerja sama.
Tanpa vendor management yang baik, beberapa masalah dapat muncul, seperti:
- Keterlambatan pengiriman.
- Kualitas produk tidak konsisten.
- Biaya tambahan yang tidak terduga.
- Ketidaksesuaian spesifikasi.
- Perselisihan kontrak.
- Risiko ketergantungan terhadap satu vendor.
- Masalah kepatuhan.
- Gangguan operasional.
- Kurangnya transparansi informasi.
- Tidak optimalnya peluang efisiensi dan inovasi.
Karena itu, vendor management menjadi penghubung antara strategi procurement dan hasil nyata di lapangan.
1. Meningkatkan Kualitas Vendor yang Dipilih
Keberhasilan procurement dimulai dari pemilihan vendor yang tepat. Harga yang kompetitif memang penting, tetapi perusahaan tidak seharusnya menjadikan harga sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Vendor management membantu procurement membangun sistem evaluasi yang lebih komprehensif.
Beberapa aspek yang dapat perusahaan evaluasi antara lain:
- Kapabilitas teknis.
- Kualitas produk atau jasa.
- Kapasitas produksi.
- Ketepatan waktu pengiriman.
- Stabilitas finansial.
- Pengalaman industri.
- Sertifikasi yang relevan.
- Sistem quality control.
- Kemampuan memenuhi kebutuhan volume.
- Rekam jejak kinerja.
- Kepatuhan terhadap persyaratan perusahaan.
- Kemampuan menangani perubahan permintaan.
Pendekatan tersebut membantu perusahaan menghindari kondisi ketika procurement memilih vendor hanya karena menawarkan harga terendah, tetapi kemudian menghadapi biaya tambahan akibat keterlambatan, produk cacat, pekerjaan ulang, atau gangguan operasional. OECD juga menempatkan supplier qualification sebagai salah satu aktivitas penting dalam strategi pengadaan yang tangguh, termasuk mengevaluasi kemampuan supplier, stabilitas finansial, sertifikasi kualitas, serta kepatuhan terhadap persyaratan yang relevan.
2. Mengontrol Kinerja Vendor Berdasarkan KPI
Setelah perusahaan memilih vendor, pekerjaan procurement belum selesai. Perusahaan perlu memastikan vendor menjalankan kewajibannya sesuai kontrak. Di sinilah vendor performance management berperan. Perusahaan dapat menetapkan Key Performance Indicators atau KPI untuk mengukur performa vendor secara objektif.
Contoh KPI vendor meliputi:
| Aspek | Contoh KPI |
| Delivery | On-Time Delivery |
| Quality | Defect Rate |
| Service | Response Time |
| Cost | Cost Variance |
| Compliance | Contract Compliance |
| Customer Service | Complaint Resolution Time |
| Reliability | Order Fulfillment Rate |
| Documentation | Kelengkapan dokumen |
CIPS menyebutkan beberapa indikator supplier performance yang dapat digunakan, termasuk kualitas produk atau layanan, incoming rejects, delivery accuracy, warranty claims, customer service, lead time, account management, dan commercial costs. Dengan KPI, procurement dapat mengubah pengelolaan vendor dari aktivitas yang subjektif menjadi proses berbasis data.
Misalnya, daripada mengatakan:
“Vendor A sepertinya sering terlambat.”
Procurement dapat menunjukkan:
“On-Time Delivery Vendor A selama enam bulan terakhir berada di bawah target kontrak.”
Data seperti ini membuat proses evaluasi lebih objektif dan memudahkan perusahaan menentukan corrective action.
3. Membantu Procurement Mengendalikan Biaya
Salah satu tujuan utama procurement adalah menciptakan value for money. Namun, penghematan tidak selalu berarti mendapatkan harga pembelian paling rendah. Vendor management membantu perusahaan melihat total biaya yang muncul selama hubungan dengan vendor. Konsep ini berkaitan dengan Total Cost of Ownership atau TCO. Misalnya, Vendor A menawarkan harga mesin lebih murah daripada Vendor B. Namun, Vendor A memiliki:
- biaya maintenance lebih tinggi,
- spare part lebih mahal,
- waktu pengiriman lebih lama,
- tingkat kerusakan lebih tinggi,
- warranty lebih terbatas.
Sementara itu, Vendor B menawarkan harga awal lebih tinggi tetapi memiliki biaya operasional dan maintenance yang lebih rendah. Jika procurement hanya melihat purchase price, Vendor A terlihat lebih murah. Namun, jika perusahaan menghitung total biaya selama masa penggunaan, hasilnya dapat berbeda.
Vendor management membantu procurement memperoleh data historis mengenai:
- Harga.
- Biaya maintenance.
- Biaya retur.
- Biaya warranty.
- Biaya keterlambatan.
- Biaya kualitas buruk.
- Biaya administrasi.
- Biaya logistik.
- Biaya perubahan order.
Data tersebut dapat menjadi dasar pengambilan keputusan procurement yang lebih strategis.
4. Mengurangi Risiko Supply Chain
Perusahaan semakin menyadari bahwa supplier merupakan bagian penting dari supply chain. Gangguan pada vendor dapat berdampak langsung pada produksi, distribusi, pelayanan pelanggan, dan pendapatan perusahaan. Vendor management membantu procurement mengidentifikasi risiko sejak awal.
Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
- Risiko keterlambatan.
- Risiko kualitas.
- Risiko kapasitas.
- Risiko finansial vendor.
- Risiko geopolitik.
- Risiko regulasi.
- Risiko keamanan informasi.
- Risiko ketergantungan.
- Risiko bencana.
- Risiko keberlanjutan.
Untuk vendor strategis, perusahaan dapat melakukan supplier risk assessment secara berkala. Perusahaan juga dapat mengembangkan contingency plan, alternatif supplier, safety stock, atau dual sourcing untuk kebutuhan tertentu. Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika perusahaan mengandalkan supplier yang memiliki peran kritis terhadap operasional.
5. Meningkatkan Hubungan antara Procurement dan Vendor
Vendor management bukan hanya tentang mengawasi vendor. Pengelolaan yang efektif juga membutuhkan hubungan kerja yang profesional.
CIPS menekankan pentingnya komunikasi rutin, keterbukaan dalam berbagi informasi, komitmen, dan hubungan yang saling menghormati dalam supplier management.
Komunikasi yang baik membantu perusahaan dan vendor memahami:
- Target bisnis.
- Perubahan kebutuhan.
- Forecast permintaan.
- Masalah operasional.
- Perubahan spesifikasi.
- Risiko supply.
- Target kualitas.
- Rencana pengembangan.
Hubungan yang sehat juga memungkinkan masalah diselesaikan sebelum berkembang menjadi gangguan besar. Karena itu, procurement sebaiknya tidak hanya menghubungi vendor ketika membutuhkan barang atau ketika terjadi masalah. Komunikasi harus berlangsung secara berkala.
6. Mendukung Contract Management
Vendor management dan contract management memiliki hubungan yang sangat erat. Kontrak menetapkan apa yang harus diberikan vendor, kapan harus diberikan, berapa biayanya, serta standar kinerja yang harus dipenuhi. Vendor management kemudian memastikan bahwa ketentuan tersebut benar-benar berjalan.
Contohnya, kontrak menetapkan:
- Delivery maksimal 7 hari.
- Defect rate maksimal 1%.
- Response time maksimal 4 jam.
- Penalti keterlambatan.
- Persyaratan sertifikasi.
- Standar keselamatan.
- Ketentuan warranty.
Procurement perlu melakukan monitoring untuk memastikan seluruh ketentuan tersebut terlaksana. Tanpa monitoring, kontrak hanya menjadi dokumen administratif. Dengan vendor management, kontrak menjadi instrumen untuk mengendalikan kinerja dan menciptakan value.
7. Membuka Peluang Continuous Improvement
Vendor yang dikelola dengan baik tidak hanya berfungsi sebagai pihak yang menerima purchase order. Vendor dapat menjadi sumber ide untuk meningkatkan proses bisnis.
Misalnya, vendor menawarkan:
- Material alternatif.
- Teknologi baru.
- Metode pengiriman yang lebih efisien.
- Packaging yang mengurangi biaya.
- Proses produksi yang lebih cepat.
- Sistem digital untuk monitoring order.
- Metode maintenance yang lebih efektif.
CIPS menjelaskan bahwa supplier relationship management dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan inovasi dan pencapaian tujuan bersama. Karena itu, perusahaan perlu membedakan antara hubungan vendor yang bersifat transaksional dan hubungan dengan strategic supplier.
Vendor untuk kebutuhan sederhana mungkin cukup dikelola melalui proses standar. Namun, vendor yang menyediakan material kritis, teknologi penting, atau layanan strategis dapat membutuhkan hubungan kolaboratif yang lebih intensif.
8. Membantu Meningkatkan Ketahanan Supply Chain
Resilience atau ketahanan supply chain menjadi salah satu perhatian penting dalam procurement modern. Perusahaan tidak hanya membutuhkan supplier yang murah, tetapi juga supplier yang mampu mempertahankan layanan ketika terjadi perubahan kondisi pasar.
Vendor management dapat membantu perusahaan memahami:
- Kapasitas vendor.
- Ketergantungan vendor terhadap supplier lain.
- Lead time.
- Lokasi fasilitas.
- Ketersediaan material.
- Kemampuan meningkatkan produksi.
- Alternatif distribusi.
- Risiko single sourcing.
Informasi tersebut membantu procurement menentukan strategi supplier yang lebih tepat. Untuk barang kritis, misalnya, perusahaan dapat mempertimbangkan lebih dari satu sumber pasokan apabila kondisi bisnis dan biaya memungkinkan.
9. Mendukung Compliance dan Governance
Vendor dapat membawa risiko compliance kepada perusahaan.
Risiko tersebut dapat berkaitan dengan:
- Legalitas.
- Pajak.
- Ketenagakerjaan.
- Keselamatan kerja.
- Lingkungan.
- Anti-bribery.
- Perlindungan data.
- Hak asasi manusia.
- Standar industri.
Karena itu, vendor management perlu memasukkan proses due diligence dan monitoring kepatuhan.
Pendekatan ini juga sejalan dengan perkembangan sustainable procurement. ISO 20400 memberikan panduan mengenai integrasi sustainability ke dalam procurement, termasuk mempertimbangkan dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial dalam keputusan pengadaan. Dengan demikian, procurement tidak hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana supplier menjalankan bisnisnya.
10. Mendukung Sustainable Procurement
Sustainable procurement semakin relevan bagi perusahaan yang memiliki target ESG atau sustainability. Vendor management memungkinkan perusahaan memasukkan aspek keberlanjutan ke dalam proses supplier selection dan supplier evaluation.
Contohnya:
- Penggunaan energi.
- Pengelolaan limbah.
- Emisi.
- Penggunaan bahan ramah lingkungan.
- Praktik ketenagakerjaan.
- Keselamatan kerja.
- Etika bisnis.
- Kepatuhan sosial.
ISO 20400:2017 secara khusus memberikan panduan bagi organisasi dalam mengintegrasikan sustainability ke dalam procurement dan standar tersebut masih tercatat sebagai versi yang berlaku setelah dikonfirmasi pada 2023. Dengan pendekatan ini, vendor management dapat mendukung tujuan keberlanjutan perusahaan secara lebih terstruktur.
Bagaimana Proses Vendor Management yang Efektif?
Agar vendor management benar-benar memberikan kontribusi terhadap procurement, perusahaan dapat membangun proses yang sistematis.
1. Vendor Identification
Perusahaan mengidentifikasi vendor potensial berdasarkan kebutuhan bisnis.
Pada tahap ini procurement dapat melakukan market research dan supplier mapping.
2. Vendor Qualification
Vendor dievaluasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
Kriteria dapat mencakup:
- Legalitas.
- Kapasitas.
- Kualitas.
- Harga.
- Pengalaman.
- Sertifikasi.
- Kondisi finansial.
- Compliance.
3. Vendor Selection
Procurement membandingkan vendor berdasarkan kebutuhan perusahaan. Penilaian sebaiknya menggunakan scoring atau evaluation matrix yang sesuai dengan kategori pengadaan.
4. Contracting
Setelah vendor dipilih, perusahaan menyusun kontrak yang jelas.
Kontrak perlu menjelaskan:
- Scope of work.
- Harga.
- Delivery.
- Quality standard.
- KPI.
- SLA.
- Payment term.
- Warranty.
- Penalty.
- Dispute resolution.
- Termination clause.
5. Vendor Onboarding
Vendor yang telah dipilih perlu memahami proses internal perusahaan.
Onboarding dapat mencakup:
- SOP.
- Sistem procurement.
- Prosedur invoice.
- Persyaratan keselamatan.
- Quality standard.
- Contact person.
- Reporting mechanism.
6. Performance Monitoring
Perusahaan memonitor performa vendor menggunakan KPI. Evaluasi dapat dilakukan bulanan, kuartalan, atau sesuai tingkat risiko dan nilai kontrak.
7. Performance Review
Hasil evaluasi kemudian dibahas bersama vendor. CIPS merekomendasikan penggunaan feedback dan komunikasi mengenai kinerja supplier untuk mendorong peningkatan performa dan hubungan kerja.
8. Supplier Development
Untuk vendor strategis, perusahaan dapat membantu mendorong peningkatan kapabilitas.
Misalnya melalui:
- Joint improvement project.
- Sharing forecast.
- Quality improvement.
- Process improvement.
- Technology collaboration.
9. Vendor Renewal atau Replacement
Pada akhir periode kontrak, procurement melakukan evaluasi untuk menentukan apakah hubungan perlu dilanjutkan, diperbaiki, dinegosiasi ulang, atau diganti.
KPI Vendor Management yang Perlu Dipantau
Agar vendor management dapat memberikan data yang berguna untuk procurement, perusahaan perlu memilih KPI yang relevan.
Beberapa KPI yang dapat digunakan antara lain:
On-Time Delivery
Mengukur persentase pengiriman yang tiba sesuai jadwal.
Defect Rate
Mengukur jumlah atau persentase produk yang tidak memenuhi standar kualitas.
Contract Compliance
Mengukur tingkat kepatuhan vendor terhadap ketentuan kontrak.
Lead Time
Mengukur waktu yang dibutuhkan vendor sejak order sampai barang atau layanan diterima.
Cost Variance
Mengukur perbedaan antara biaya yang disepakati dengan biaya aktual.
Response Time
Mengukur kecepatan vendor dalam merespons pertanyaan atau masalah.
Complaint Resolution Time
Mengukur waktu penyelesaian keluhan.
Service Level Achievement
Mengukur tingkat pencapaian vendor terhadap SLA.
Supplier Risk Score
Menggambarkan tingkat risiko vendor berdasarkan kriteria yang ditetapkan perusahaan.
Penggunaan KPI memungkinkan procurement melakukan evaluasi secara konsisten dan berbasis data.
Tantangan dalam Implementasi Vendor Management
Walaupun memberikan banyak manfaat, penerapan vendor management tidak selalu mudah.
Beberapa tantangan yang sering muncul adalah:
Data Vendor Tidak Terintegrasi
Informasi vendor terkadang tersebar di procurement, finance, warehouse, legal, quality, dan departemen lainnya.
Akibatnya, perusahaan kesulitan memperoleh gambaran lengkap mengenai performa vendor.
Terlalu Fokus pada Harga
Procurement dapat terjebak mengejar price reduction tanpa mempertimbangkan kualitas, risiko, service level, dan total cost.
Tidak Ada KPI yang Jelas
Jika perusahaan tidak menetapkan KPI, evaluasi vendor cenderung subjektif.
Komunikasi Tidak Konsisten
Hubungan dengan vendor hanya dilakukan ketika ada masalah.
Tidak Ada Segmentasi Vendor
Semua vendor diperlakukan dengan cara yang sama, padahal tingkat risiko dan nilai strategis setiap vendor berbeda.
Kurangnya Kompetensi Tim
Vendor management membutuhkan kemampuan procurement, negotiation, contract management, data analysis, risk management, dan relationship management.
Karena itu, peningkatan kompetensi procurement professional menjadi bagian penting dalam membangun vendor management yang efektif.
Strategi Meningkatkan Vendor Management di Perusahaan
Perusahaan dapat melakukan beberapa langkah berikut.
Segmentasikan Vendor
Tidak semua vendor membutuhkan tingkat pengelolaan yang sama.
Vendor dapat dikelompokkan berdasarkan:
- Nilai pembelian.
- Risiko.
- Tingkat kritikalitas.
- Kompleksitas.
- Dampak terhadap operasional.
Vendor strategis membutuhkan monitoring dan komunikasi yang lebih intensif.
Gunakan Data
Gunakan data procurement untuk melihat tren performa vendor.
Dashboard dapat menampilkan:
- Spend.
- Delivery.
- Quality.
- Contract compliance.
- Risk.
- Saving.
- Performance score.
Bangun Review Berkala
Lakukan supplier performance review secara terjadwal.
Dalam review tersebut, procurement dan vendor dapat membahas pencapaian KPI, masalah, risiko, dan peluang perbaikan.
Integrasikan Vendor Management dengan Procurement Strategy
Vendor management tidak boleh berjalan sendiri.
Informasi vendor harus menjadi input bagi:
- Sourcing strategy.
- Negotiation.
- Category management.
- Risk management.
- Budget planning.
- Contract renewal.
Dorong Kolaborasi
Untuk supplier strategis, perusahaan dapat membangun hubungan jangka panjang yang berorientasi pada peningkatan value.
Peran Teknologi dalam Vendor Management
Teknologi dapat membantu perusahaan mengelola vendor secara lebih efisien.
Sistem procurement atau Source-to-Pay dapat membantu perusahaan mengelola:
- Supplier database.
- Vendor onboarding.
- Purchase order.
- Contract.
- Invoice.
- Supplier performance.
- Approval.
- Documentation.
Dengan data yang terintegrasi, procurement dapat memperoleh visibility yang lebih baik. CIPS juga mencatat bahwa e-procurement dapat membantu memperlancar proses procurement, termasuk melalui katalog approved suppliers dan monitoring performa supplier. Perusahaan juga dapat menggunakan dashboard untuk memonitor supplier secara real time atau berkala sesuai kebutuhan.
Hubungan Vendor Management dengan Strategic Procurement
Strategic procurement berfokus pada bagaimana aktivitas pengadaan memberikan kontribusi terhadap tujuan bisnis. Vendor management mendukung tujuan tersebut dengan menyediakan informasi mengenai kemampuan dan performa supplier.
Hubungannya dapat digambarkan secara sederhana:
Procurement Strategy → Supplier Selection → Vendor Management → Performance Monitoring → Continuous Improvement → Business Value
Jika proses procurement berhenti setelah kontrak ditandatangani, perusahaan kehilangan banyak peluang. Sebaliknya, jika perusahaan terus mengelola hubungan dengan supplier secara strategis, procurement dapat berkembang dari fungsi administratif menjadi strategic business function.
Kesimpulan
Vendor management mendukung keberhasilan procurement perusahaan dengan memastikan bahwa supplier mampu memberikan produk atau layanan sesuai kualitas, biaya, waktu, risiko, dan standar yang telah disepakati. Perannya tidak hanya mengawasi vendor, tetapi juga mencakup proses yang lebih luas, mulai dari vendor qualification, supplier selection, contract management, performance monitoring, risk management, compliance, hingga supplier development.
Pengelolaan vendor yang efektif dapat membantu perusahaan:
- Meningkatkan kualitas supplier.
- Mengontrol biaya.
- Mengurangi risiko supply chain.
- Meningkatkan ketepatan delivery.
- Memastikan kepatuhan terhadap kontrak.
- Mendorong continuous improvement.
- Membangun kolaborasi strategis.
- Mendukung sustainable procurement.
- Meningkatkan resilience supply chain.
- Menciptakan business value dari aktivitas procurement.
Dengan demikian, vendor management sebaiknya dipandang sebagai bagian integral dari procurement management, bukan sekadar aktivitas administratif setelah pembelian. Semakin strategis peran procurement dalam perusahaan, semakin penting pula kemampuan organisasi dalam mengelola vendor berdasarkan data, risiko, kinerja, dan tujuan bisnis.
Referensi
- Chartered Institute of Procurement & Supply (CIPS). What is Procurement?
- Chartered Institute of Procurement & Supply (CIPS). Managing Suppliers.
- Chartered Institute of Procurement & Supply (CIPS). Supplier Performance – How to Manage Supplier Performance.
- Chartered Institute of Procurement & Supply (CIPS). Supplier Preferencing Matrix.
- Chartered Institute of Procurement & Supply (CIPS). Procurement Process.
- Chartered Institute of Procurement & Supply (CIPS). Procurement Supply Cycle.
- Chartered Institute of Procurement & Supply (CIPS). 10 Ways to Improve Supplier Relationships.
- International Organization for Standardization (ISO). ISO 20400:2017 – Sustainable Procurement – Guidance.
- OECD. Public Procurement Performance: A Framework for Measuring Efficiency, Compliance and Strategic Goals. OECD Publishing, 2023.
- OECD. Implementing the OECD Recommendation on Public Procurement in OECD and Partner Countries: 2020–2024 Report. OECD Publishing, 2025.
- OECD. Responsible Business Due Diligence and Government Procurement: Implications of New Regulation. OECD Publishing, 2024.
- OECD. Public Procurement, Trade and Industrial Policies: Supporting National Priorities. OECD Publishing, 2026.